Rabu, 31 Desember 2014

Mengenal Test Pack

Kira-kira awal bulan juni, ketika haid mulai telat hari ke-3, saya udah mulai-mulai minta suami buat beli test pack karena curiga (well, more like hoping kalau hamil). Suami langsung beli test pack ke minimarket sepulang ngajar 3 macem merk sekaligus; andalan, akurat, dan sensitif dengan kisaran harga antara 15 sampai 20-an.



Ini kali pertama liat dan megang langsung yang namanya test pack. Besok paginya langung coba pake setelah browsing-browsing cara pemakaian dan baca aturan pakai. Pakai test pack baiknya pagi hari, air seni pertama yang keluar setelah bangun tidur. Karena air seni pagi hari mengandung hcg (hormon kehamilan) lebih banyak … .

Maka, dicobalah pakai test pack sebelum sholat subuh. Hasilnya…
Karena masih awam dan belum paham betul (padahal udah baca petunjuk-_-‘) cara pemakaian test pack, hasilnya kelihatan negative, which is Cuma satu garis. Beberapa saat kemudian sih muncul satu garis tipis lagi, tapi karena ku kira udah di luar batas waktu nunggu jadi.. ya saat itu hasil diputuskan negative.

Jadi, pemakaian test pack yang bener itu ditunggu dulu 3 – 5 menit, kemudian dilihat hasilnya. Tapi, hasil setelah di atas 8 – 10 menit sudah tidak terpakai. Karena, kadang garis baru malah akan muncul. Nah, saat itu saya pahamnya, kalau hasil di bawah 5 menit itu yang relevan. Padahal itu baru waktu menunggunya. (Dan ini, baru aku ngerti keesokan harinya setelah dijelasin bidan.)

Malemnya, karena masih penasaran (and somehow I believe that I was pregnant), aku coba lagi untuk kedua kalinya dengan masih pemahaman sama yang salah tentang penggunaan test pack. Hasilnya, no wonder, still negative.

Suami aku sih saat itu santai-santai aja bilang ‘emang belum kali yang.’ Padahal, kita ma udah yakin. Jadinya gemes sendiri.

Besok paginya, aku masih ngeyel diem-diem cobain test pack lagi (pantang menyerah!). hasilnya mirip dengan yang kemaren sih, satu garis tebel dan satu garis yang samaaaaar aja. Kegundahanlah menyerang.. pasalnya, hari itu bertepatan banget sama rencana trip ke Batang, Jawa tengah, kampungnya suami untuk ngehadirin kondangan sohibnya.

Hati kecil masih terus aja meyakini kalau I was pregnant at that moment, no doubt, no doubt even hasil-hasil test pack itu semua meragukan. Karena itu, ditambah banyak baca artikel yang sukses bikin parno untuk gak nge-trip jauh dulu selama kehamilan muda karena masih fragile, jadilah.. aku paksa suami setelah pulang ngajar pagi untuk nyamperin bidan deket rumah. Padahal suami udah coba bilang kalau mungkin memang belom. Dia gak pengen aku kecewa kalau emang ternyata hasilnya belom. But, you know honey, I was talking as a mom back there :p

So, berangkatlah kita pagi-pagi, sekitar jam 7.00, ngetok-ngetok rumah bidan yang masih tutup. Nunggu sebentar akhirnya dipersilahkan masuk, kayaknya bidannya abis taking a nap pagi dari penampilannya hehe. Habis cerita tentang percobaan test pack dan rencana trip, bidan cek perut, di tekan-tekan halus. Karena emang telatnya baru hitungan hari, bidan dari awal sudah bilang kalau akan belum teraba. Di usg-pun akan belum kelihatan, kecuali melalui usg vaginal. Tapi sih bidannya juga sepakat kalau kemungkinan udah hamil. (gak tau ini nenangin aku atau emang betul hehe) Bidan bilang, kalau masih awal garis mungkin memang masih samar karena kadar … masih rendah. Tapi selama udah ada 2 garis, bisa dibilang sudah masuk masa kehamilan.Jadi, bidan nyaranin kalau emang penasaran banget untuk usg. Pulangnya kita juga dibekelin 1 test pack lagi merek onemed buat dicoba besok paginya.

Siangnya, setelah sholat Jum’at, drama dimulai. Aku masih kekeuh kalau khawatir ikut trip karena yakin udah mulai masuk masa kehamilan. Sedangkan suami masih maksa halus untuk stick to the plan yang dia udah dari sebulan lalu beli tiket. Lagian masa itungan masih pengantin baru (kita nikah bulan april), sudah harus pulang kampong dan kondangan sendiri lagi kaya jomblo. Tapi, aku masih aja kekeuh sampai ngambek. Terus minta pendapat ke ibuku gimana baiknya. Dan as I expected, ibu juga setuju aku batalin trip. Bukan pilih kasing loh sayang, dukung anaknya, mungkin ibu sebenernya udah kepengen banget punya cucu. It was somehow happy news for her, yang kita deliver dengan drama. Maka, tambah kekeuhlah aku.

Akhirnya, kamu harus pulang kampong sendirian, setelah nitipin aku di rumah ibu. Huhu.. maafin aku ya, saying. Bener-bener ngerasa bersalaaah banget. Tapi begitu denger bapak-ibu kamu (mertuaku) disana juga ngerti dan malah dukung aku, I couldn’t help but feeling love and smug hehe..
Ah, back to test pack.. besok paginya sesuai saran bidan aku test pack lagi. Dan kali ini udah dengan pemahaman yang benar tentang cara penggunaan test pack. Hasilnya garis kedua emang masih samar tapi agak lebih tebel dari kemaren. Terus langsung aku tunjukin hasil test pack baru ke ibu. Dan dengan senyum-senyumnya, ibu bilang “udah hamil ini ma.” Ini sekalian doa mungkin ya. *hug

Aku foto dan kirim ke suami, jawaban suami masih sama. “iya, semoga memang betul ya.”
Heduuuh.. si ayang ma. but i know deep down you wish the same, dont you?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar